habarbangsa.com (SAMARINDA) – Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, mendorong kepada pemerintah provinsi (Pemprov) mengembangkan sekolah inklusi yang masih terbilang kurang, sementara dari tahun ke tahun anak berkebutuhan khusus semakin banyak.
Legislator PDIP ini menyatakan, bahwa sekolah inklusi merupakan sekolah yang dapat mengakomodasi dan mendampingi pengembangan diri anak-anak berkebutuhan khusus dalam proses pembelajarannya dengan berbagai pendekatan yang dihadirkan.
“Untuk itu dalam waktu dekat saat Alat Kelengkapan Dewan (AKD) terbentuk, dirinya akan segera berkoordinasi dengan Komisi IV DPRD Kaltim untuk mempersiapkan beberapa langkah strategis dukungan pengembangan sekolah inklusi di kaltim, ” ujarnya.
Ia mengatakan, dukungan ini mulai dari dukungan anggaran dan juga peningkatan keterampilan guru pendamping dan penyediaan fasilitas prioritas untuk memperkuat sekolah inklusi di Kaltim.
“Kita akan mendorong dinas terkait untuk menyediakan pelatihan bagi guru-guru pendamping di sekolah inklusi, sehingga mereka lebih siap dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus. Fasilitas juga harus diperbaiki agar sesuai dengan standar pendidikan inklusif,” imbuhnya.
Ia mengaku, sekolah inklusi adalah sekolah yang menerima dan memberikan pelayanan pendidikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus, seperti autis, tunarungu, tunanetra, cacat fisik, dan lain-lain, bersama dengan anak-anak normal.
“Saya berkomitmen untuk mendukung pengembangan sekolah inklusi di Benua Etam. Di Kalimantan Timur sudah ada beberapa sekolah inklusi, tetapi ini perlu terus ditingkatkan. Semua anak, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak,” terangnya.
Ia menambahkan, bahwa DPRD Kaltim juga berencana mendorong perguruan tinggi di bidang pendidikan untuk membuka mata kuliah khusus pendidikan inklusif.
“Hal ini penting untuk menciptakan tenaga pengajar yang terlatih dan paham akan kebutuhan ABK. Kami akan membahas masalah ini secara komprehensif, termasuk mengidentifikasi solusi terbaik untuk setiap tantangan yang dihadapi sekolah inklusi di Kalimantan Timur, ” tutupnya. (Dar/Adv)





